Minggu, 11 Oktober 2020

 

"Mental Health"

      Manusia terdiri atas sesuatu hal yang tampak (fisik) serta dilengkapi dengan hal yang tidak tampak (mental). Keduanya saling mempengaruhi satu sama lain. Bila tidak ada fisik, kita tidak akan mampu menjadi sesuatu hal yang tampak secara logika bahwa kita ada dam melakukan aktivitas di dunia ini. Namun, jikalau tidak memiliki mental, maka kita sama saja seperti robot. Kaku tanpa adanya pengembangan perasaan. Bagaimana seseorang dapat bergaul dengan masyarakat apabila keduanya tidak salaing melengkapi. Mustahil pastinya.

         Seringkali kita menjumpai sekelompok orang yang abai akan kesehatan mental. Alasan mereka tiada lain adalah setiap manusia memiliki sifat yang sama, jadi apabila manusia yang satu mampu diperlakukan seperti apa yang diinginkan maka manusia yang lainnya akan mampu juga. Padahal, mental disini tidak sama dengan fisik. Fisik memang sama-sama kekar, akan tetapi mental yang melekat pada jiwanya itulah yang membedakannya.

            Kesehatan mental mulai digaungkan kembali pada gen z atau yang biasa disebut generasi millenial. Kelak gen z akan mengambil alih pergulatan ekonomi, sosial, politik, pendidikan, agama hingga yang lainnya dari orang-orang tua. Fisik bukan jaminan seseorang dapat dikatakan sukses, akan tetapi mental lah yang menentukannya.

          Merebaknya digitalisasi dewasa ini membuat beragam dampak yang timbul. Salah satunya dari segi kesehatan mental.  Menurut penelitian yang dilakukan UNICEF dan Menteri Pendidikan Indonesia pada 2014, sebanyak 98 persen dari anak dan remaja mengaku tahu tentang internet dan 79,5 persen di antaranya adalah pengguna internet. Melihat fakta ini maka ke depan kita uraikan apakah pemakaian internet berdampak buruk bagi kesehatan mental. Menurut salah satu dosen psikologi UGM, penggunaan internet dalam hal ini telepon genggam akan menimbulkan penyimpangan keadaan mental. Diantaranya, anak lebih sering berdiam diri di rumah, tidak suka bersosialisasi (apatis), muncul sifat egosentris (mementingkan diri sendiri), bahkan pada kasus berat ditemui seorang anak yang stress dan depresi. Betapa mengerikannya bukan, mau jadi apa bangsa ini kalau pemuda nya telah terganggu kesehatan mentalnya.

           

             Hasil Riskesdas tahun 2018, menunjukkan prevalensi rumah tangga dengan anggota yang menderita skizofrenia/psikosis sebesar 7/1000 dengan cakupan pengobatan 84,9%. Sementara itu prevalensi gangguan mental emosional pada remaja berumur >15 tahun sebesar 9,8%. Angka jni meningkat dibandingkan tahun 2013 yaitu sebesar 6%. Mau bagaimanapun penyakit fisik memang mengerikan, tapi tidak jauh mengkhawatirkan dari penyakit yang tidak tampak keberadaannya. Lalu bagaimana kita menjaga kesehatan mental agar tetap normal?

        Banyak hal yang dianjurkan oleh para psikolog untuk membantu meminimalisir penyakit mental. Antara lain yaitu, berolahraga. Dengan olahraga, kita mampu melepaskan hormon endorfin yang mana juga menyingkirkan rasa stres dan menimbulkan hati kian bahagia. Tidur tepat waktu juga dapat dilakukan sebagai solusi menjaga kesehatan mental. Hindari penggunaan hp sebelum tidur karena menurut penelitian, hal ini akan memiliki efek negatif terhadap suasana hati. Terbuka dengan seseorang terdekat dengan diri kita, siapapun itu. Dengan kita bercerita, maka setidaknya kita menganggap ada seseorang lagi yang memberi energi postif kepada kita secara langsung maupun tidak.

                 Penyakit mental dan fisik memang sudah tidak dipungkiri keberadaannya. Namun kita mampu menangkalnya, karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Jaga kesehatan mental dan fisik di tengah pandemi. Terima kasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengabdian Masyarakat Uji Zat aditif pada Makanan

  Pengabdian masyarakat "Edukasi Bahan Aditif Makanan yang Sehat bagi Masyarakat di Kelurahan Tanjungsekar Kota Malang"  Kegiatan ...